Sabtu, 15 Juni 2013

Potensi sumber daya Pesisir Indonesia

Batas wilayah dan sumber daya pesisir


Wilayah pesisir merupakan pintu masuk perkembangan sosial budaya dan ekonomi masyarakat indonesia sejak jaman dulu menjadi jalan masuk transportasi dan transformasi sosiologis serta budaya masyarakat. Selain faktor sosiologis tersebut,   di wilayah pesisir inilah pada mulanya terjadi transaksi dan memilki kekayaan sumber daya alam yang sangat potensial baik bagi masyarakat pesisir itu sendiri maupun perekonomian secara nasional. 
Batas wilayah pesisir dapat dilihat dari 2 macam batas yang memisahkan wilayah pesisir dengan garis pantai. batas yang sejajar dengan pantai dan batas yang tegak lurus terhadap garis pantai.Selanjutnya menurut  Dahuri (2001), sumberdaya alam pesisir dan laut terdiri dari (1) sumber daya dapat pulih ( renewable resources), (2) sumber daya tidak dapat pulih (non renewable resources) dan (3) Jasa - jasa lingkungan.
Gambar Sumber Daya Alam Pesisir Indonesia
Sumber daya alam pesisir yang dapat pulih meliputi kekayaan flora dan fauna yang ada di pesisir seperti udang, kepiting, rumput laut, mangrove dan terumbu karang. sumber daya lam pesisir yang tidak dapat pulih meliputi mineral, minyak bumi, pasir, bijih besi dan lainnya. selain itu satu lagi sumber daya pesisir yang bernilai strategis bagi sosio-ekonomi masyarakat pesisir dan pendapatan nasiaonal misalnya untuk transportasi dan wisata.

Fakta-fakta tentang pesisir Indonesia
dikutip dari yayasan terumbu karang Indonesia 
Beberapa fakta tentang dimensi sosial, ekonomi dan ekologi wilayah pesisir antara lain:
  1. Secara sosial, wilayah pesisir dihuni tidak kurang dari 110 juta jiwa atau 60% dari penduduk Indonesia yang bertempat tinggal dalam radius 50 km dari garis pantai. Dapat dikatakan bahwa wilayah ini merupakan cikal bakal perkembangan urbanisasi Indonesia pada masa yang akan dating.
  2. Secara administratif kurang lebih 42 Daerah Kota dan 181 Daerah Kabupaten berada di pesisir, dimana dengan adanya otonomi daerah masing-masing daerah otonomi tersebut memiliki kewenangan yang lebih luas dalam pengolahan dan pemanfaatan wilayah pesisir.
  3. Secara fisik, terdapat pusat-pusat pelayanan sosial-ekonomi yang tersebar mulai dari Sabang hingga Jayapura, dimana didalamnya terkandung berbagai asset sosial (Social Overhead Capital) dan ekonomi yang memiliki nilai ekonomi dan financial yang sangat besar.
  4. Secara ekonomi, hasil sumberdaya pesisir telah memberikan kontribusi terhadap pembentuka PDB nasional sebesar 24% pada tahun 1989. Selain itu, pada wilayah ini juga terdapat berbagai sumber daya masa depan (future resources) dengan memperhatikan berbagai potensinya yang pada saat ini belum dikembangkan secara optimal, antara lain potensi perikanan yang saat ini baru sekitar 58,5% dari potensi lestarinya yang termanfaatkan.
  5. Wilyah pesisir di Indonesia memiliki peluang untuk menjadi produsen (exporter) sekaligus sebagi simpul transportasi laut di Wilayah Asia Pasifik. Hal ini menggambarkan peluang untuk meningkatkan pemasaran produk-produk sektor industri Indonesia yang tumbuh cepat (4%-9%)
  6. Selanjutnya, wilayah pesisir juga kaya akan beberapa sumber daya pesisir dan lauatan yang potensial dikembangkan lebih lanjut meliputi (a) pertambangan dengan diketahuinya 60% cekungan minyak, (b) perikanan dengan potensi 6,7 juta ton/tahun yang tersebar pada 9 dari 17 titik penangkapan ikan di dunia, (c) pariwisata bahari yang diakui duniadengan keberadaan 21 spot potensial, dan (d) keanekaragaman hayati yang sangat tinggi (natural biodiversity) sebagai daya tarik bagi pengembangan kegiatan “ecotaurism”.
  7. Secara biofisik, wilayah pesisir di Indonesia merupakan pusat biodiversity laut tripis dunia kerena hamper 30% hutan bakau dan terumbu karang dunia terdapat di Indonesia.
  8. Secara politik dan hankam, wilayah pesisir merupakan kawasan perbatasan antar Negara maupun antar daerah yang sensitive dan memiliki implikasi terhadap pertahanan dan keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Fakta bahwa wilayah pesisir tidak terpisahkan dari semua dimensi kehidupan masyarakat dapat dilihat dari beragam aktivitas baik posistif maupun negatif yang dilakukan di wilayah pesisir. Selain sebagai sentra pertumbuhan ekonomi dan sosial, wilayah pesisir juga menjadi pusat keamanan teritorial hingga pusat pembuangan limbah industri.

Bagaimana aspek sosiologi yang harus dipenuhi agar pemanfaatan sumber daya pesisir sesuai dengan program pembangunan berkelanjutan, Melalui  buku Sosiologi Pesisir yang diterbitkan oleh penerbit edukati, MUhammad Zid dkk merumuskan dalam beberapa hal termasuk didalamnya menyangkut sosio edukasi.  (baca selengkapnya dalam buku Sosiologi Pesisir).


Permasalahan dan Ancaman Potensi Wilayah Indonesia

Pemanfatan dan pengelolaan daerah pesisir yang dilakukan yang tidak memperhitungkan daya dukung ekosistem peisir akan berpengaruh terhadap kondisi dan kelestarian pesisir dan lingkungannya. TErjadinya  degradasi kondisi daerah pesisir secara tidak langsung juga disebabkan oleh pengelolaan sumber daya alam di hulu sehingga  berpengaruh terhadap muara di pesisir.
Kebijakan reklamasi seharusnya berdasarkan kepada analisa dampak lingkungan. Hal ini diperlukan agar eksplorasi terhadap sumber daya alam pesisir dapat memberi manfaat terhadap nilai ekologis, ekonomis dan sosiologi wilayah pesisir. Kewenangan perizinan pengembangan usaha bagi kelangsungan  dunia usaha selama ini sebagian besar menjadi kewenangan pusat. problemnya adalah, pemberian kewenanganan tersebut sering tidak memperhatikan kondisi daerah dan wilayah pesisirnya.
Menurut yayasan terumbu karang Indonesia, berbagai permasalahan yang timbul dalam pemanfaatan dan pengelolaan daerah pesisir diantaranya sebagai berikut :

  • Pemanfaatan dan pengelolaan daerah belum diatur dengan peraturan perundang-ungan yang jelas, sehingga daerah mengalami kesulitan dalam menetapkan sesuatu kebijakan.
  • Pemanfaatan dan pengelolaan daerah pesisir cenderung bersifat sektoral, sehingga kadangkala melahirkan kebijakan yang tumpang tindih satu sama lain.
  • Pemanfatan dan pengelolaan daerah pesisir belum memperhatikan konsep daerah pesisir sebagai suatu kesatuan ekosistem yang tidak dibatasi oleh wilayah administratif pemerintahan, sehingga hal ini dapat menimbulkan konflik kepentingan antar daerah.
  • Kewenangan daerah dalam rangka otonomi daerah belum dipahami secara komprehensif oleh para stakeholders, sehingga pada setiap daerah dan setiap sector timbul berbagai pemahaman dan penafsiran yang berbeda dalam pemanfaatan dan pengelolaan daerah pesisir.


Referensi  : Buku Sosiologi Pesisir,Penulis     : Muhammad Zid, Dewi sartika dan Akhmad Tarmiji AlKhudri
Penerbit Edukati. 

Selasa, 11 Juni 2013

Budaya Masyarakat Pesisir dalam Pandangan Sosiologi

Karakteristik Sosial & Kultur Masyarakat Pesisir 
masyarakat pesisir secara sosial memerlukan sosio edukasi yang dapat meningkatkan keberadabannya.
Kultur sosial Masyarakat Pesisir
Karakter masyarakat pesisir merupakan aspek penting dalam sebuah pandangan sosiologi. Setting sosio-edukasi masyarakat pesisir di Indonesia,  menjadi penanda karakteristik kultur masyakatnya. Kultur masyarkat pesisir ini akrab dengan ketidakpastian yang tinggi. hal ini disebabkan karena kehidupan sosial di wilayah Pesisir tergantung pada sumber daya laut yang ada. Secara alamiah,  sumberdaya laut pesisir  (perikanan) bersifat invisible, sehingga sulit untuk diprediksi.  Dalam kondisi seperti ini maka tidak jarang ditemui karakteristik masyarakat pesisir Indonesia yang keras, sebagian temparemental, dan boros karena ada persepsi bahwa sumberdaya perikanan “tinggal diambil” di laut. 
Secara sosiologi perlu adanya transformasi pendidikan dan budaya yang dapat membangun keadaban pesisir – keadaban yang transformatif, tangguh, dan mandiri, bukan keadaban yang lemah, pasif, dan destruktif (Mubyarto, et. al. 1984: 10).
Karakter sosial masyarakat di pesisir ini terbentuk melalui proses panjang. Sebagai contoh adalah fakta sosialdi Tanjung Burung, Banten. . Karakter sosial pesisiran seperti gaya hidup konsumtif terjadi karena adanya dorongan ”gengsi sosial” yang kini semakin tampak menggejala dan merupakan ”kompensasi psikologis” dari kesengsaraan hidup yang cukup lama menimpa. dalam tatanan sosiologis tersebut, kata lain gaya hidup yang dianggap ”boros” itu merupakan upaya masyarakat di pesisir untuk menyenangkan diri sesaat. Gejala sosial yang terjadi di wilayah pesisir Indonesia ini dilakukan dalam menikmati kehidupan yang selayaknya. 
Streotipe ini sering dianggap menjadi penyebab kemiskian nelayan Pesisir. Padahal kultur  soaial masyarakat pesisir, jika dicermati pada dasarnya memiliki etos kerja yang handal. Bayangkan mereka pergi subuh pulang siang, kemudian menyempatkan waktunya pada waktu senggang untuk memperbaiki jaring, dan seterusnya. Kondisi tersebut lambat tapi pasti membentuk dan menjadi identitas mereka (Ginkel, 2007).
Masyarakat Tanjung Burung, pesisir utara Banten ini, secara sosio kultur-pendidikan lemah dan pasif. Secara struktural mereka termarginalisasi dalam sistem. Menurut Sunarto (2004) marjinalisasi hanyalah satu di antara banyak masalah sosiologis yang timbul sebagai akibat ketimpangan (Sunarto, 2004). Di mana ketimpangan ketersediaan sarana sosial ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan sarana infrastruktur publik. Marjinalisasi mengabaikan hakekat pemberdayaan masyarakat partisipatif (Ife, 2002), cenderung mengakibatkan keadaan komunitas pedesaan di pesisir menjadi semakin tidak berdaya dalam beradaptasi terhadap perubahan sosio-struktural dan ekologis. Lihat data realitas lemahnya pembangunan sosial ekonomi berikut ini.

Tabel. Pembangunan Sosial dan Ekonomi
Desa
Pelatihan Keterampilan
Modal Usaha
Padat Karya
Perbaikan Rumah
Rehabilitasi Kampung
Rehabilitasi Ling Kumuh
Tnjng Brng
Tidak
Tidak
Tidak
Ada
Tidak
Tidak
Sumber: Monografi Desa, 2010.


Tabel. Infratruktur dan Sanitasi
Desa
Infrastruktur
Air Sungai
Sudah Listrik (KK)
Non PLN (KK)
Sampah
TPS
BAB
Mandi
Minum
Baku minum
Irigasi
Transportasi
T.B.
1645
0
Timbun angkut dan sungai
0
Bukan jamban
1
4
5
7
4
Sumber: Monografi Desa, 2010.

Tabel. Sarana Kesehatan
Ds
Bersalin
Poliklinik
Puskesmas
Puskesmas Pembantu
Tersedia
Akses Jrk
Kemudahan
Tersedia
Akse Jrk
Kemudahan
Tersedia
Akses Jrk
Kemudahan
Tersedia
Akses Jrk
Kemudahan
T.B.
Tdk
6.00
Mdh
tdk
7.00
mdh
tdk
7.00
mdh
tdk
10.00
Mudah
   Sumber: Monografi Desa, 2010.

Ini hanyalah satu dari sekian banyak potret sosio-kultural masyarakat pesisir di Indonesia. Pemberdayaan yang dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan dan derajat sosial di pesisir masih kurang. perlu Sosio-edukasi yang komprehensif dan lebih menyentuh aspek sosial dan BUdaya pesisir. Wujudnya adalah budaya dan karakter masyarakat pesisir yang kuat secara sosio-kultural dan ekonomi.Bagaimana caranya? selengkapnya dapat anda baca di dalam buku sosiologi Pesisir.




Selasa, 04 Juni 2013

Mengenal Alam Pesisir

Ekosistem Pesisir


Ekosistem Pesisiran
Untuk dapat mengelola pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan (environmentalservices) kawasan pesisir secara berkelanjutan (on a sustainable basis), perlu pemahaman yang mendalam tentang pengertian dan karakteristik utama dari kawasan ini.
 Pertanyaan yang seringkali muncul dalam  pengelolaan kawasan pesisir adalah bagaimana menentukan batas-batas dari suatu wilayah pesisir (coastal zone).  Sampai sekarang  belum ada definisi wilayah pesisir yang baku.  Namun demikian, terdapat kesepakatan umum di dunia bahwa wilayah pesisir adalah suatu wilayah peralihan antara daratan dan laut.  Apabila ditinjau dari garis pantai (coastline), maka suatu wilayah pesisir memiliki dua macam batas (boundaries), yaitu : batas yang sejajar garis pantai (longshore) dan batas yang tegak lurus terhadap garis pantai (cross-shore).  Untuk keperluan pengelolaan, penetapan batas-batas wilayah pesisir yang sejajar dengan garis pantai relatif mudah, misalnya batas wilayah pesisir antara Sungai Brantas dan Sungai Bengawan Solo, atau batas wilayah pesisir Kabupaten Kupang adalah antara Tanjung Nasikonis dan Pulau Sabu, dan batas wilayah pesisir DKI Jakarta adalah antara Sungai Dadap di sebelah barat dan Tanjung Karawang di sebelah timur.
Definisi dan batas wilayah pesisir yang digunakan di Indonesia adalah wilayah dimana daratan berbatasan dengan laut; batas di daratan meliputi daerah-daerah yang tergenang air maupun yang tidak tergenang air yang masih dipengaruhi oleh proses-proses laut seperti pasang-surut, angin laut dan intrusi garam, sedangkan batas di laut ialah daerah-daerah yang dipengaruhi oleh proses-proses alami di daratan seperti sedimentasi dan mengalirnya air tawar ke laut, serta daerah-daerah laut yang dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan manusia di daratan.

Komponen Fungsional Ekosistem Pesisir

Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa sumberdaya hayati perairan pesisir yang merupakan satuan kehidupan (organisme hidup) saling berhubungan dan berinteraksi dengan lingkungan nir-hayatinya (fisik) membentuk suatu sistem. Dengan demikian, pembahasan selanjutnya dititik beratkan pada ekosistem pesisir yang merupakan unit fungsional komponen hayati (biotik) dan nir-hayati (abiotik).
Komponen biotik yang menyusun suatu ekosistem pesisir terbagi atas empat kelompok utama: (1) produser, (2) konsumer primer, (3) konsumer sekunder dan (4) dekomposer.
Sebagai produser adalah vegetasi autotrof, algae dan fitoplankton yang menggunakan energi matahari untuk proses fotosintesa yang menghasilkan zat organik kompleks dari zat anorganik sederhana.
Sebagai konsumer primer adalah hewan-hewan yang memakan produser, disebut herbivora. Herbivora ini menghasilkan pula materi organik (pertumbuhan, reproduksi), tapi mereka tergantung sepenuhnya dari materi organik yang disintesa oleh tumbuhan atau fitoplankton yang dimakannya.
Sebagai konsumer sekunder adalah karnivora, yaitu semua organisme yang memakan hewan. Untuk suatu analisis yang lebih jelas, kita dapat membagi lagi konsumer sekunder ke dalam konsumer tersier yang memakan konsumer sebelumnya. Sesungguhnya banyak jenis organisme yang tidak dengan mudah dapat diklasifikasikan ke dalam tingkatan trofik ini, karena mereka dapat dimasukkan ke dalam beberapa kelompok: konsumer primer dan sekunder (omnivora), konsumer sekunder dan tersier (predator atau parasit herbivora dan karnivora).
Sebagai dekomposer adalah organisme avertebrata, bakteri dan cendawan yang memakan materi organik mati: bangkai, daun-daunan yang mati, ekskreta.
Pada prinsipnya terdapat tiga proses dasar yang menyusun struktur fungsional komponen biotik ini:
1) proses produksi (sintesa materi organik),
2) proses konsomasi (memakan materi organik) dan
3) proses dekomposisi atau mineralisasi (pendaurulangan materi).
Komponen abiotik dari suatu ekosistem pesisir terbagi atas tiga komponen utama:
[1] unsur dan senyawa anorganik, karbon, nitrogen dan air yang terlibat dalam siklus materi di suatu ekosistem,
[2] bahan organik, karbohidrat, protein dan lemak yang mengikat komponen abiotik dan biotik, dan
[3] regim iklim, suhu dan faktor fisik lain yang membatasi kondisi kehidupan.
Dari sejumlah besar unsur dan senyawa anorganik sederhana yang dijumpai di suatu ekosistem pesisir, terdapat unsur-unsur tertentu yang penting bagi kehidupan. Unsur-unsur tersebut merupakan substansi biogenik atau unsur
hara baik makro (karbon, nitrogen, fosfor…) maupun mikro (besi, seng, magnesium…).
Karbohidrat, protein dan lemak yang menyusun tubuh organisme hidup juga terdapat di lingkungan. Senyawa tersebut dan ratusan senyawa kompleks lainnya menyusun komponen organik dari kompartimen abiotik. Bila tubuh organisme hancur, selanjutnya akan terurai menjadi fragmen-fragmen dengan berbagai ukuran yang secara kolektif disebut detritus organik. Karena biomassa tanaman lebih besar dibandingkan dengan hewan, maka detritus tanaman biasanya lebih menonjol dibandingkan dengan hewan. Demikian pula tanaman biasanya lebih lambat hancur dibandingkan dengan hewan.
Bahan organik terdapat dalam bentuk terlarut dan partikel. Bila bahan organik terurai, bahan tersebut dinamakan humus atau zat humik, yaitu suatu bentuk yang resisten terhadap penghancuran lebih lanjut. Peranan humus dalam ekosistem tidak sepenuhnya dimengerti, tapi diketahui dengan pasti kontribusinya pada sifat tanah.
Kategori ketiga dari komponen abiotik suatu ekosistem pesisir adalah faktor-faktor fisik (iklim). Faktor iklim (suhu, curah hujan, kelembaban) sebagaimana halnya sifat kimiawi air dan tanah serta lapisan geologi di bawahnya, merupakan penentu keberadaan suatu jenis organisme. Faktor-faktor ini senantiasa berada dalam satu seri gradien. Kemampuan adaptasi organisme seringkali berubah secara bertahap sepanjang gradien tersebut, tapi sering pula terdapat titik perubahan yang berbaur atau zona persimpangan yang disebut ekoton (misalnya zona intertidal perairan laut).

Dimensi Ekologis Lingkungan Pesisir

Secara prinsip ekosistem pesisir mempunyai 4 fungsi pokok bagi kehidupan manusia, yaitu: sebagai penyedia sumberdaya alam, penerima limbah,   penyedia jasa-jasa pendukung kehidupan, dan penyedia jasa-jasa kenyamanan.
Sebagai suatu ekosistem, perairan pesisir menyediakan sumberdaya alam yang produktif baik yang dapat dikonsumsi langsung maupun tidak langsung, seperti sumberdaya alam hayati yang dapat pulih (di antaranya sumberdaya perikanan, terumbu karang dan rumput laut), dan sumberdaya alam nir-hayati yang tidak dapat pulih (di antaranya sumberdaya mineral, minyak bumi dan gas alam). Sebagai penyedia sumberdaya alam yang produktif, pemanfaatan sumberdaya perairan pesisir yang dapat pulih harus dilakukan dengan tepat agar tidak melebihi kemampuannya untuk memulihkan diri pada periode waktu tertentu. Demikian pula diperlukan kecermatan pemanfaatan sumberdaya perairan pesisir yang tidak dapat pulih, sehingga efeknya tidak merusak lingkungan sekitarnya.
Disamping sumberdaya alam yang produktif, ekosistem pesisir merupakan penyedia jasa-jasa pendukung kehidupan, seperti air bersih dan ruang yang diperlukan bagi berkiprahnya segenap kegiatan manusia. Sebagai penyedia jasa-jasa kenyamanan, ekosistem pesisir merupakan lokasi yang indah dan menyejukkan untuk dijadikan tempat rekreasi atau pariwisata.
Ekosistem pesisir juga merupakan tempat penampung limbah yang dihasilkan dari kegiatan manusia. Sebagai tempat penampung limbah, ekosistem ini memiliki kemampuan terbatas yang sangat tergantung pada volume dan jenis limbah yang masuk. Apabila limbah tersebut melampaui kemampuan asimilasi perairan pesisir, maka kerusakan ekosistem dalam bentuk pencemaran akan terjadi.
Dari keempat fungsi tersebut di atas, kemampuan ekosistem pesisir sebagai penyedia jasa-jasa pendukung kehidupan dan penyedia kenyamanan, sangat tergantung dari dua kemampuan lainnya, yaitu sebagai penyedia sumberdaya alam dan penampung limbah. Dari sini terlihat bahwa jika dua kemampuan yang disebut terakhir tidak dirusak oleh kegiatan manusia, maka fungsi ekosistem pesisir sebagai pendukung kehidupan manusia dan penyedia kenyamanan diharapkan dapat dipertahankan dan tetap lestari.



Jumat, 31 Mei 2013

Dinamika Struktur Sosial Masyarakat pesisir dalam Ekosistem Pesisir

 Struktur Sosial Masyarakat Pesisir
Gambar. Dinamika sosio pesisir
 Masyarakat nelayan secara umum di Indonesia dalam tataran evolusi sosio-budaya berada pada perkembangan awal. Sukadana (1983), menyampaikan bahwa perubahan antroposere dalam kehidupan manusia ada enam tingkatan, mulai dari: food gather, hunting and fishing, pastoral nomad, agriculture, industry dan terakhir urban. Koentjaraningrat (1985) juga menggunakan pendekatan evolusi ini, yang dimulai dari: meramu, perikanan, dan kemudian pertanian (dari perladangan berpindah sampai ke pertanian menetap). Dengan demikian, perspektif evolusioner masih relevan digunakan sebagai dasar memahami dinamika masyarakat nelayan, apalagi dalam kehidupan masyarakat nelayan yang terikat habitat. Perkembangan masyarakat masa kini yang berada dalam abad informasi, tentu akan berinteraksi dengan lingkungan sosial luar secara intensif. Hal ini memberi konsekuensi teoretik, bahwa analisis dengan pendekatan teori sosiologi modern menjadi relevan digunakan untuk menelaah dinamika masyarakat nelayan. Sintesis teoretik antara para antropolog yang menggunakan pendekatan evolusioner dengan para sosiolog modern yang salah satu ruang kajiannya berdimensi struktural merupakan suatu upaya agar kita semakin memiliki alat analisis yang lebih memadai untuk menjelaskan perkembangan masyarakat dalam abad ini, jika mungkin untuk melakukan peramalan terhadap perubahan sosial di masa mendatang. Demikian pula, mengingat bahwa masyarakat nelayan dalam menjalani kehidupannya masih sangat bergantung pada kondisi habitatnya, maka memadukan pendekatan ekosistem akan semakin menjadikan analisis ini dapat lebih kontekstual.



Selasa, 28 Mei 2013

Tradisi Masyarakat Pesisir

Beladiri dan Riwayat Jawara Pesisiran 
Gambar. Beladiri masyarakat pesisir

Silat dapat dimaknai sebagai seni. Silat juga merupakan salah satu wujud identitas kejawaraan dalam setting Tanjung Burung, Banten. Secara historis, desa Tanjung Burung ini sangat terkenal dengan tradisi pencak silat dan budaya kejawaraannya. Dalam sejarahnya, silat akrab dengan para jawara yang membela rakyat, terutama ketika melindungi hasil tangkapan ikan para nelayan dari ancaman pencurian. Namun demikian, silat juga akrab dengan kekerasan “gue akan bunuh turunan lu sampe yang paling kecil”. Sepenggal ungkapan Enyon (65 tahun) jawara aliran beksi. Ia tertarik untuk berlatih silat dan menjadi guru silat karena ada orang yang meneror dan mengancam keluarganya. Menurut Sarnubi (47), dari sinilah kemudian silat identik dengan kejawaraan.
Silat pesisiran Tanjung Burung memiliki karakter yang khas, karena mengalami akulturasi dengan budaya Betawi, Banten, dan China. Dari persinggungan tiga budaya tersebut, ada dua aliran silat yang cukup membumi yaitu Seliwa dan Beksi. Kata Seliwa berasal dari bahasa sunda yang berarti nyeliwa. Pergerakannya alami seperti orang berjalan. Seliwa juga dapat berarti tenaga yang bersilang. Misalnya dalam posisi kuda-kuda dengan kaki kanan dan tangan di depan; tumpu kekuatan tenaga ada di kaki kiri dan tangan kanan, ini juga sudah seliwa. Arah tenaga atau energi yang berlawanan. Arah yang hendak dituju juga dapat dimaknai sebagai seliwa, untuk mencapainya tidak langsung (lurus) ke sasaran namun berputar, Secara tidak langsung, melingkar atau ke bawah dulu baru ke atas, dan seterusnya. Tidak linier dan tidak satu arah tapi kaya akan berbagai kemungkinan arah.
Lain halnya dengan beksi, silat khas China ini, gerakan dan jurusnya murni kekuatan fisik dan kecepatan berpikir untuk melumpuhkan musuh. Menurut Bapak Enyon (65), guru silat beksi, Tanjung Burung:

Istilah Beksi berasal dari bahasa China yaitu “bek” berarti pertahanan dan “si” berarti empat. Sehingga Beksi berarti empat pertahanan. Dalam Beksi ada ada 9 formasi, 12 jurus dan 6 jurus kembangan yang harus dikuasai setiap jawara pesilat (Wawancara, 20 April 2012).

Lanjutnya, silat aliran Beksi ini adalah aliran silat yang paling berat dan tertutup untuk umum. Latihannya pun dilakukan pada pukul 19.00 sampai 01.00 dini hari, setiap harinya. Dalam aliran beksi ini ada 12 tingkatan. Karena aliran ini merupakan aliran silat yang cukup sulit, maka banyak murid dari bapak Enyon yang tidak sampai pada tingkat 12. Jika ada 20 murid, hanya 2 sampai 3 orang yang bisa sampai pada tingkat 12. Rata-rata muridnya hanya bertahan pada tingkat 1, 3 atau 5. Hal ini dikarenakan mereka tidak serius dalam berlatih baik secara mental maupun fisik.
Jurus-jurus dalam aliran silat beksi antara lain, janda berias (menyisir rambut), jandu renda (menggunakan tenaga dalam), dan teripang (seperti hewan laut teripang yang tak tahu ujungnya, antara kepala dan buntut serupa), bandrong (gerakan yang menggunakan kaki), jurus tancep (untuk melawan musuh), rompes (gerakan dengan menggunakan kepala, tangan, dan kaki), nunjang pisang (pukulan yang paling keras). Selain menggunakan kekuatan fisik, silat juga membutuhkan kekuatan magic untuk lebih melindungi pesilatnya, sang jawara.



Penulis: Abdur Rahman, Novitha S.D., dkk. dalam buku Sosiologi Pesisir, Penerbit Edukati.